Sebuah lagu yang berjudul “Lampu Merah” yang diciptakan oleh grup band indie bernama The Lantis sepertinya releate dengan fenomena banyaknya para milenial yang tertinggal oleh generasi z khusunya dalam hal romansa melalui sebuah analogi Lampu Merah yang berada di persimpangan jalan.
Meskipun memang tidak secara eksplisit menjelaskan tentang perbandingan kehidupan milenial yang tertinggal oleh gen z tetapi sepertinya tidak sedikit dari para milenial yang merasa releate dan memaknai lagu tersebut sebagai sebuah fase ketertinggalannya dari para gen z khususnya dalam hal romansa atau menikah, dan memang tidak mengherankan juga kalau seandainya ada beberapa milenial di lingkungan kita yang seperti ‘terdahului’ atau ‘tersusul’ kehidupan romansanya oleh para gen z.

Jika kita lihat dari data diatas, maka dapat diketahui sebanyak 26% generasi Milenial belum atau tidak berencana untuk menikah. Presentasenya lebih besar daripada Gen Z yang hanya 21%.
Dan masalah ini ternyata bukan hanya terjadi pada milenial di Indonesia melainkan juga menimpa kalangan milenial di beberapa negara. Diberbagai platform media sosial, banyak sekali meme tentang perbandingan gen z yang sudah melalui masa pernikahan sedangkan milenial masih berjuang menata hidupnya, dan banyak dari para milenial yang merasa releate dengan fakta – fakta yang disajikan dalam bentuk meme tersebut.

Jika melihat data yang dikeluarkan oleh Bdan Pusat Statistik Nasional (BPS) melalui survei eknomi nasional (susenas) pada tahun 2022 trend untuk menunda pernikahan bahkan sama sekali tidak berencana untuk menikah terus mengalami peningkatan. Presentase menunjukan selalu bertambahnya jumlah pemuda yang belum menikah dalam lima tahun terakhir.
Jika dalam datanya BPS mengklasifikasikan pemuda dengan rentang usia 16-30 tahun dan data tersebut diambil pada tahun 2022 maka dapat disimpulkan bahwa pemuda yang dimaksud adalah generasi yang lahir sekitar tahun 1992 – 2006 atau generasi milenial akhir dan generasi z pertengahan.
Baca juga : Orang Kaya Bercerai, Orang Miskin Bercerai
Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan kenapa generasi z lebih terkesan ‘ngebet’ kawin dibandingkan para milenial diantaranya :
1. Perubahan Nilai dan Prioritas:
Generasi Z mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang pernikahan dan stabilitas dibandingkan dengan Milenial. Mereka mungkin melihat pernikahan sebagai cara untuk mencapai kestabilan emosional dan finansial lebih cepat, atau mungkin mereka lebih terbuka terhadap institusi pernikahan sebagai bagian dari kehidupan yang normal.
2. Situasi Ekonomi dan Sosial
Generasi Z tumbuh dalam situasi ekonomi yang berbeda. Meskipun mereka menghadapi tantangan ekonomi, beberapa mungkin merasa lebih stabil atau memiliki akses yang lebih baik ke sumber daya yang memungkinkan mereka merasa siap untuk menikah lebih awal dibandingkan dengan Milenial, yang menghadapi krisis ekonomi global dan ketidakpastian pekerjaan.
3. Pengaruh Budaya dan Media
Budaya populer dan media sosial dapat memengaruhi pandangan tentang pernikahan. Jika Generasi Z melihat lebih banyak representasi positif tentang pernikahan atau mendapatkan dorongan dari influencer dan figur publik yang mereka ikuti, ini bisa mempengaruhi keputusan mereka untuk menikah lebih awal.
Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak sekali dari konten – konten kreator di media sosial yang memang secara tidak langsung telah mencekoki generasi z dengan berbagai konten kehidupan romansa yang unyu – unyu sehingga dorongan kuat untuk menjalin hubungan itu bisa jauh lebih besar ketimbang para milenial. Dan ini menjadi sebuah catatan penting juga bahwa trend – trend di media sosial dijaman milenial tidak sebanyak generasi z
3. Perubahan Struktur Keluarga
Generasi Z mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang struktur keluarga dan lebih cenderung melihat pernikahan sebagai cara untuk membentuk keluarga mereka sendiri. Mereka mungkin juga lebih banyak terlibat dalam perencanaan dan mempersiapkan masa depan dengan pasangan sejak dini.
4. Kondisi Sosial dan Pandemi
Pengalaman bersama selama pandemi COVID-19 mungkin telah mempercepat keinginan untuk menyatukan hidup dengan seseorang. Beberapa orang mungkin merasa bahwa menikah adalah cara untuk mencari dukungan emosional dan keamanan di masa ketidakpastian.
5. Rasa Aman dan Kebutuhan Emosional
Bagi generasi z sepertinya menikah merupakan jawaban untuk mencari rasa aman dan dan stabilitas emosional. Kita ketahui sendiri bahwa kondisi perekoniam dijaman sekarang memang cukup menyulitkan, kita tentu pernah membaca beberapa berita di media online tentang banyaknya para gen z yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, atau tentang berita tentang antrian pelamar kerja di sebuah warung seblak. Dengan berbagai macam kondisi kehidupan yang tidak menentu maka tidak heran jika generasi z berpikir bahwa pernikahan mungkin bisa menjadi salah satu jawaban untuk memenuhi rasa aman ataupun stabilitas emosional mereka.
Nah coba bayangkan, misal di situasi yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, ada seseorang yang bisa kita andalkan, yang bisa kita ajak ngobrol ketika kita lagi terpuruk, ketika kita butuh dukungan dan memberi kepastian mungkin menikah bisa menjadi salah satu cara untuk kita agar bisa jauh lebih survive dalam menghadapi berbagai macam rintangan yang malang melintang dari DKI Jakarta sampai Surabaya
Kesimpulan
Dalam hal ini saya perlu memberi catatan bahwa ini bukan tentang siapa yang lebih baik atau generasi mana yang lebih unggul dalam hal menikah. Ini lebih mencerminkan bagaimana konteks sosial, ekonomi, dan budaya mempengaruhi keputusan pribadi dalam berbagai cara.
Setiap orang tumbuh dengan cara yang berbeda – beda, setiap orang memiliki problem masing – masing didalam hidupnya sehingga kita tidak bisa membandingkan tumbuh kembang antara satu individu dengan individu lainnya.
Tetapi ini dikembalikan kepada masing – masing saja, karena pernikahan bukanlah sebuah perlombaan, pernikahan juga merupakan sebuah pilihan hidup, orang bebas memilih untuk menikah ataupun tidak menikah, sehingga dalam hal ini yang terpenting adalah menghormati dan menghargai keputusan yang dipilih oleh setiap individu.
Menikah tidak semerta – merta membuat hidup kita jadi jauh lebih baik daripada yang tidak, sebab kualitas hidup ataupun value seseorang tidaklah ditentukan dari menikah atau tidaknya.
Meskipun menderita didalam pernikahan tapi setidaknya penderitaan itu bisa dilewati berdua, sedangkan yang tidak, sudahmah menderita, sendirian pula.. *just kidding :v


Leave a comment